Bisnis Marketplace Mulai Ditinggalkan? Ini Alasan Brand Beralih ke Website Sendiri
durasi baca : 2 menit
Selama bertahun-tahun, bisnis marketplace menjadi pilihan utama bagi banyak pelaku usaha untuk menjual produk secara online. Dengan jutaan pengguna aktif dan kemudahan dalam membuka toko, marketplace dianggap sebagai solusi praktis untuk menjangkau lebih banyak pelanggan.
Namun, tren mulai berubah. Semakin banyak brand yang kini mempertimbangkan untuk mengurangi ketergantungan pada bisnis marketplace dan beralih ke website e-commerce milik sendiri. Mengapa banyak brand mulai meninggalkan model ini, dan apakah website e-commerce bisa menjadi solusi yang lebih menguntungkan di masa depan? Simak penjelasannya dalam artikel berikut.
Apa Itu Bisnis Marketplace?
Bisnis marketplace adalah model bisnis digital yang menyediakan tempat bagi banyak penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi secara online dalam satu platform.
Jika diibaratkan seperti pasar tradisional, marketplace berperan sebagai pengelola pasar yang menyediakan lapak bagi para pedagang, sementara produk yang dijual berasal dari masing-masing penjual.
Melalui marketplace, pembeli dapat mencari, membandingkan, dan membeli berbagai produk tanpa harus berpindah-pindah platform. Berbeda dengan toko online biasa yang hanya menjual produk dari satu brand atau perusahaan, marketplace menampung banyak penjual sekaligus dengan beragam produk dan kategori.
Platform marketplace juga mengelola berbagai kebutuhan transaksi, mulai dari sistem pembayaran, promosi, hingga pengiriman barang, sehingga proses jual beli menjadi lebih mudah dan praktis bagi kedua belah pihak.
Jenis-Jenis Marketplace
Seiring berkembangnya dunia digital, bisnis marketplace juga hadir dalam berbagai jenis dengan fungsi dan target pengguna yang berbeda-beda. Berikut beberapa jenis marketplace yang paling umum digunakan saat ini:
1. Marketplace Horizontal
Marketplace horizontal adalah platform yang menyediakan berbagai jenis produk dari banyak kategori yang berbeda dalam satu tempat. Pengguna bisa menemukan hampir semua kebutuhan, mulai dari fashion, elektronik, perlengkapan rumah tangga, hingga makanan dan minuman.
Jenis marketplace ini menjadi yang paling populer karena menawarkan pilihan produk yang sangat lengkap bagi konsumen. Beberapa contoh marketplace horizontal yang banyak digunakan di Indonesia adalah Tokopedia, Shopee, dan Lazada.
2. Marketplace Vertikal
Berbeda dengan marketplace horizontal, marketplace vertikal hanya fokus pada satu kategori produk atau industri tertentu. Karena lebih spesifik, marketplace jenis ini biasanya mampu memberikan pengalaman berbelanja yang lebih sesuai dengan kebutuhan target pasarnya.
Contohnya adalah Bukalapak yang pada awal perkembangannya banyak mendukung produk UMKM lokal, atau RajaMobil yang secara khusus berfokus pada jual beli kendaraan.
3. Marketplace B2B (Business to Business)
Marketplace B2B adalah platform yang mempertemukan bisnis dengan bisnis lainnya. Biasanya transaksi yang dilakukan memiliki jumlah pembelian yang besar dan digunakan untuk kebutuhan operasional perusahaan, distribusi produk, atau pengadaan bahan baku.
Salah satu contoh marketplace B2B terbesar di dunia adalah Alibaba, yang menghubungkan produsen, supplier, distributor, dan perusahaan dari berbagai negara.
4. Marketplace C2C (Consumer to Consumer)
Marketplace C2C memungkinkan individu untuk menjual barang langsung kepada individu lainnya. Model ini sering digunakan untuk menjual barang bekas, koleksi pribadi, atau produk yang dimiliki secara perorangan.
Contoh marketplace C2C yang populer adalah eBay dan OLX. Melalui platform ini, siapa saja dapat menjadi penjual tanpa harus memiliki bisnis resmi.
5. Marketplace B2C (Business to Consumer)
Marketplace B2C adalah platform yang memungkinkan perusahaan atau brand menjual produk mereka secara langsung kepada konsumen akhir. Model ini menjadi salah satu yang paling banyak digunakan dalam industri e-commerce karena proses transaksi berlangsung langsung antara bisnis dan pelanggan.
Beberapa contoh marketplace B2C yang dikenal secara global adalah Amazon dan Zalora. Platform ini membantu brand menjangkau konsumen yang lebih luas tanpa harus membangun sistem penjualan dari nol.
Kenapa Banyak Bisnis Mulai Tinggalkan Marketplace?
Marketplace masih menjadi salah satu tempat terbaik untuk menjangkau pelanggan baru. Namun, belakangan ini semakin banyak brand yang mulai mengurangi ketergantungannya pada marketplace dan membangun website sendiri. Berikut beberapa alasannya:
A. Biaya Admin dan Komisi Semakin Besar
Salah satu keluhan yang paling sering dirasakan penjual adalah biaya admin dan komisi yang terus meningkat.
Selain potongan per transaksi, banyak marketplace juga menawarkan berbagai fitur iklan berbayar agar produk lebih mudah ditemukan.
Akibatnya, margin keuntungan yang diterima penjual menjadi semakin kecil, terutama bagi bisnis yang menjual produk dengan keuntungan tipis.
B. AI Search Mulai Mengubah Cara Orang Mencari Produk
Saat ini semakin banyak orang menggunakan AI sebagai mesin pencari untuk menemukan produk, rekomendasi, hingga solusi atas kebutuhan mereka. Ketika seseorang bertanya kepada AI, informasi yang muncul biasanya berasal dari website, artikel, atau sumber online yang memiliki konten relevan.
Karena itu, bisnis yang memiliki website sendiri memiliki peluang lebih besar untuk muncul di hasil AI Search dibandingkan bisnis yang hanya mengandalkan marketplace.
C. Website Menjadi Aset Digital Jangka Panjang
Berjualan di marketplace berarti bisnis masih bergantung pada aturan, algoritma, dan kebijakan platform tersebut. Sementara itu, website adalah aset yang sepenuhnya dimiliki oleh bisnis.
Semakin lama website dikembangkan dan dioptimasi, semakin besar peluangnya untuk mendapatkan trafik organik dari Google maupun AI Search, sehingga dapat mendatangkan pelanggan tanpa harus terus-menerus mengeluarkan biaya iklan yang besar.
Solusi dan Alternatif dari Bisnis Marketplace
Salah satu alternatif terbaik dari bisnis marketplace adalah memiliki website e-commerce sendiri. Dengan website, bisnis tidak perlu terlalu bergantung pada aturan, biaya admin, atau perubahan algoritma marketplace.
Pemilik usaha juga bisa lebih leluasa membangun branding, mengelola data pelanggan, serta menciptakan pengalaman belanja yang sesuai dengan identitas brand.
Selain itu, website dapat dioptimasi melalui strategi e-commerce SEO sehingga berpeluang muncul di hasil pencarian Google maupun AI search engine yang semakin banyak digunakan oleh konsumen saat ini. Tren ini sudah mulai dilakukan oleh banyak bisnis lokal di Indonesia.
Misalnya, brand fashion seperti Erigo dan Buttonscarves yang tidak hanya berjualan melalui marketplace, tetapi juga mengembangkan website resmi untuk melayani pelanggan secara langsung.
Di sektor kecantikan, Somethinc dan Avoskin juga aktif mengarahkan pelanggan ke website mereka untuk mendapatkan informasi produk yang lebih lengkap serta promo eksklusif.
Bangun Website Untuk Pertumbuhan Jangka Panjang!
Jika saat ini bisnis kamu masih sepenuhnya bergantung pada marketplace, mungkin inilah saat yang tepat untuk mulai membangun website e-commerce sendiri.
Jika masih bingung memilih website vs marketplace, sebenarnya keduanya bisa digunakan secara bersamaan. Namun, memiliki website sendiri akan memberikan kontrol yang lebih besar terhadap branding, data pelanggan, dan strategi pemasaran jangka panjang.
Melalui layanan SEO dari Whello, bisnis kamu dapat meningkatkan visibilitas website, menjangkau lebih banyak calon pembeli, dan mendapatkan traffic organik yang lebih berkualitas. Jika belum memiliki website, Whello juga menyediakan jasa pembuatan toko online yang dirancang agar profesional, mudah digunakan, dan siap dioptimasi untuk mesin pencari.
Frequently Asked Questions
Bisnis marketplace adalah model jual beli online yang mempertemukan penjual dan pembeli melalui platform pihak ketiga, seperti marketplace.
Suka Artikel Ini?
Cari Artikel
Subscribe Newsletter Whello Gratis
Dapatkan promo eksklusif dan konten menarik langsung di emailmu.

Tentang Yuda Pramudyatama
Digital Marketing Consultant
Hai, perkenalkan namaku Yuda, Digital Marketing Consultant di Whello Indonesia. Yuk bareng-bareng belajar digital marketing lebih dalam!
















