Konten Evergreen Tidak Lagi Mendominasi Google? Ini Faktanya di Era AI
durasi baca : 3 menit
Selama bertahun-tahun, konten evergreen dianggap sebagai salah satu senjata paling ampuh dalam strategi SEO. Buat artikel yang membahas topik yang selalu dicari, optimalkan dengan keyword, lalu update secara berkala. Harapannya, artikel tersebut bisa terus mendatangkan traffic organik dari Google selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Strategi ini memang masih relevan. Namun, cara orang mencari informasi sekarang sudah berubah drastis karena AI. Google tidak lagi sekadar menampilkan daftar link. Dengan hadirnya AI Overviews dan AI Mode, pengguna bisa mendapatkan rangkuman jawaban langsung di halaman pencarian.
Google sendiri menyebut bahwa untuk menghadapi pengalaman pencarian berbasis AI, pemilik website tetap perlu mengutamakan konten yang unik, bernilai, dan memuaskan pengguna. Lalu, selain schema rich results tidak efektif lagi, apakah era konten evergreen juga sudah tidak lagi relevan?
- 1. Beralih dari "Evergreen" ke "Evervaluable"
- 2. Masukkan First-Hand Experience
- 3. Buat Konten Berdasarkan Data Sendiri
- 4. Bangun Topical Authority, Bukan Sekadar Banyak Artikel
- 5. Jangan Takut Menggunakan AI, Tapi Jangan Serahkan Semuanya kepada AI
- 6. Optimalkan Konten untuk Search dan AI
- 7. Ukur Kesuksesan Lebih dari Sekadar Traffic
Apa Itu Konten Evergreen?
Secara sederhana, konten evergreen adalah konten yang tetap relevan dan dicari dalam jangka waktu panjang.
Istilah "evergreen" sendiri berasal dari tanaman yang tetap hijau sepanjang tahun. Dalam dunia content marketing, konsepnya kontennya tidak cepat basi.
Misalnya, kamu membuat artikel berjudul "Apa Itu SEO? Panduan Lengkap untuk Pemula." Artikel tersebut berpotensi tetap dicari meskipun sudah berumur dua atau tiga tahun karena orang baru akan terus belajar tentang SEO.
Berbeda dengan artikel seperti "Tren SEO Terbaru Tahun 2026" yang sifatnya lebih cepat berubah. Artikel tersebut perlu diperbarui ketika memasuki 2027 karena informasi di dalamnya bisa sudah tidak relevan.
Jadi, karakter utama konten evergreen adalah umur relevansinya panjang.
Mengapa Konten Evergreen Dulu Sangat Populer dalam SEO?
Ada alasan mengapa hampir setiap strategi content marketing dulu memasukkan konten evergreen.
Pertama, konten ini bisa menjadi sumber traffic jangka panjang. Kamu tidak harus membuat artikel baru setiap hari untuk mendapatkan pengunjung.
Kedua, artikel evergreen bisa mengumpulkan backlink, internal link, engagement, dan authority seiring waktu.
Ketiga, konten tersebut dapat menjadi aset SEO. Setelah berhasil mendapatkan ranking, artikel bisa terus mendatangkan pengunjung selama keyword dan kebutuhan pencariannya masih ada.
Strategi Konten Evergreen yang Selama Ini Digunakan
Strategi evergreen sebenarnya masih bisa digunakan. Hanya saja, jangan menganggapnya sebagai artikel sekali buat lalu biarkan menghasilkan traffic selamanya.
Strategi evergreen yang lebih tepat terdiri dari beberapa tahap.
1. Pilih Topik yang Memiliki Kebutuhan Jangka Panjang
Mulailah dengan mencari topik yang kemungkinan besar tetap dibutuhkan audiens. Topik seperti ini punya kebutuhan yang relatif stabil karena masalah yang dibahas tidak langsung hilang.
2. Pahami Search Intent
Jangan hanya melihat keyword. Pahami mengapa seseorang melakukan pencarian tersebut. Misalnya keyword "cara membuat website" bisa berarti banyak hal.
Orang tersebut mungkin ingin:
- mengetahui langkah membuat website,
- mencari platform website,
- mencari tutorial WordPress,
- mengetahui biaya membuat website,
- atau bahkan mencari jasa pembuatan website.
Jadi, artikel evergreen yang bagus bukan hanya memasukkan keyword sebanyak mungkin. Konten harus benar-benar menjawab kebutuhan pencari.
Google sendiri menekankan bahwa konten sebaiknya dibuat untuk membantu manusia, bukan semata-mata untuk mendapatkan ranking.
3. Buat Konten yang Lengkap dan Mudah Dipahami
Evergreen content biasanya membahas sebuah topik dari dasar sampai praktiknya.
Dengan begitu, pembaca tidak perlu membuka lima artikel lain hanya untuk mendapatkan informasi dasar.
4. Update Konten Secara Berkala
Evergreen bukan berarti tidak perlu diperbarui. Justru, konten evergreen perlu diperiksa secara berkala.
Misalnya kamu mempunyai artikel "Panduan SEO untuk Pemula" yang dibuat pada 2022. Beberapa prinsip SEO mungkin masih relevan, tetapi contoh, screenshot, fitur Google, atau strategi tertentu bisa sudah berubah.
Yang lebih penting adalah content refresh strategy yang benar-benar memperbaiki atau menambahkan informasi yang relevan. Google bahkan mengingatkan bahwa sekadar mengganti tanggal agar terlihat baru tanpa perubahan substansial bukanlah strategi yang dianjurkan.
Baca juga: Content Syndication: Bagus atau Tidak untuk SEO?
Lalu, Mengapa Konten Evergreen Mulai Berakhir di Era AI?
Sebenarnya, konten evergreen tidak benar-benar berakhir.
Yang lebih tepat adalah konten evergreen yang hanya berisi informasi umum dan mudah ditemukan di banyak website mulai kehilangan keunggulannya. Mengapa?
1. AI Bisa Merangkum Informasi Umum dengan Cepat
Bayangkan seseorang mencari: "Apa itu SEO?"
Dulu, pengguna mungkin harus membuka beberapa artikel untuk memahami jawabannya.
Sekarang, pengalaman pencarian berbasis AI dapat memberikan rangkuman langsung.
Artinya, artikel seperti "Apa Itu SEO?" tetap bisa muncul di Google, tetapi pengguna mungkin tidak selalu perlu mengkliknya untuk mendapatkan definisi dasar.
Jika konten kamu hanya memberikan informasi yang sudah tersedia di ratusan website, nilai tambahnya semakin kecil.
2. Konten Generik Semakin Mudah Diproduksi
Dulu, membuat artikel 1.500 kata membutuhkan waktu yang cukup lama. Sekarang, AI bisa membantu menghasilkan draft dalam waktu singkat.
Akibatnya, internet semakin dipenuhi artikel dengan pola yang mirip.
Masalahnya, jika sepuluh website memberikan informasi yang hampir sama, apa alasan Google atau pengguna harus memilih website kamu?
Google sendiri menekankan pentingnya konten yang orisinal dan memberikan nilai tambahan, serta memperingatkan penggunaan AI untuk menghasilkan banyak halaman tanpa nilai tambah bagi pengguna.
3. Informasi Umum Semakin Menjadi Standar
Informasi dasar seperti: "Apa itu digital marketing?" sudah menjadi suatu standar dan semua orang bisa menjelaskannya.
Karena itu, membuat artikel yang hanya mendefinisikan sesuatu menjadi semakin sulit untuk memberikan keunggulan tersendiri.
Sebaliknya, konten spesifik seperti: "Kami Menghabiskan Rp50 Juta untuk Google Ads: Ini 7 Kesalahan yang Membakar Budget" jauh lebih sulit ditiru.
Ini karena ada pengalaman nyata, data, opini, pembelajaran, dan sudut pandang. Google dalam panduan terbarunya untuk pencarian AI juga menekankan pentingnya konten nonkomoditas dengan perspektif unik dan pengalaman langsung.
Jadi, Apakah Konten Evergreen Sudah Mati?
Belum. Konten evergreen masih bisa bekerja dengan sangat baik jika memiliki nilai yang tidak mudah digantikan oleh AI.
Misalnya, konten evergreen biasanya 10 Tips Memilih Kamera untuk Pemula. Untuk konten evergreen yang lebih kuat, kamu bisa coba “Kami Mencoba 15 Kamera di Bawah Rp10 Juta: Mana yang Paling Cocok untuk Content Creator Pemula?”
Topiknya masih evergreen. Namun pembahasan dan pendekatannya berbeda.
Jadi, bukan evergreen content yang mati. Evergreen content yang generiklah yang semakin kehilangan daya saing.
Apa yang Harus Dilakukan dalam SEO Sekarang?
Jika strategi SEO kamu selama ini hanya mengandalkan artikel evergreen, jangan panik. Justru sekarang saatnya mengubah cara berpikir.
1. Beralih dari "Evergreen" ke "Evervaluable"
Jangan hanya bertanya: "Apakah artikel ini akan tetap relevan lima tahun lagi?"
Tambahkan pertanyaan: "Apakah artikel ini memberikan sesuatu yang tidak bisa didapatkan dengan mudah dari AI?"
Informasinya tetap bisa relevan dalam waktu lama, tetapi memiliki nilai pengalaman yang lebih kuat.
2. Masukkan First-Hand Experience
Pengalaman langsung semakin penting. Kalau kamu menjual produk, tunjukkan bagaimana produk digunakan. Kalau kamu menawarkan jasa, tampilkan studi kasus.
Kalau kamu restoran, tampilkan proses, menu, pengalaman pelanggan, dan insight dari tim. Kalau kamu konsultan SEO, jangan hanya menjelaskan teori SEO.
Google menyebut pengalaman langsung sebagai salah satu cara untuk memberikan perspektif unik yang berbeda dari sekadar merangkum informasi yang sudah tersedia.
3. Buat Konten Berdasarkan Data Sendiri
Data adalah salah satu aset yang sangat berharga di era AI. AI bisa membantu menganalisis data tersebut, tetapi AI tidak otomatis memiliki data internal bisnis kamu.
4. Bangun Topical Authority, Bukan Sekadar Banyak Artikel
Dulu, ada anggapan bahwa semakin banyak artikel yang diterbitkan, semakin besar peluang mendapatkan traffic.
Daripada membuat 100 artikel random, lebih baik bangun kumpulan konten yang benar-benar relevan dengan bidang bisnis.
Kemudian setiap artikel saling terhubung dengan internal link yang relevan.
Tujuannya bukan sekadar punya banyak halaman, tetapi membangun website yang benar-benar berguna bagi audiens dalam satu bidang.
5. Jangan Takut Menggunakan AI, Tapi Jangan Serahkan Semuanya kepada AI
AI bukan musuh SEO. AI justru bisa membantu mempercepat proses:
- brainstorming,
- riset awal,
- membuat outline,
- mencari pertanyaan pengguna,
- merapikan struktur,
- dan menganalisis data.
Masalahnya muncul ketika AI digunakan untuk memproduksi ratusan artikel generik tanpa pengalaman, riset, atau nilai tambahan.
Google sendiri menyatakan bahwa penggunaan AI tidak otomatis menjadi masalah. Fokusnya tetap pada kualitas, akurasi, relevansi, dan nilai yang diberikan kepada pengguna.
6. Optimalkan Konten untuk Search dan AI
SEO sekarang tidak hanya tentang mendapatkan posisi di daftar hasil pencarian.
Konten juga harus mudah dipahami dan digunakan dalam pengalaman pencarian berbasis AI.
Google menyarankan tetap menerapkan dasar SEO seperti struktur teknis yang baik, memastikan halaman dapat dirayapi dan diindeks, serta menyediakan konten unik dan bernilai. Tidak ada trik khusus yang harus dilakukan agar konten otomatis masuk ke AI Overviews.
Artinya, jangan terlalu sibuk mengejar trik seperti membuat konten hanya demi memenuhi format tertentu.
7. Ukur Kesuksesan Lebih dari Sekadar Traffic
Traffic organik tetap penting, tetapi jangan menjadikannya satu-satunya indikator.
Coba lihat:
- Apakah traffic menghasilkan leads?
- Apakah pengunjung melakukan pembelian?
- Apakah mereka mengisi formulir?
- Apakah brand semakin dikenal?
- Apakah konten mendapatkan backlink?
- Apakah pengguna kembali ke website?
- Apakah halaman menjadi sumber rujukan dalam pengalaman AI?
Ingin Unggul di Google? Yuk, Mulai dengan Whello!
Kalau kamu ingin website lebih unggul di SEO maupun Google Maps, jangan cuma mengandalkan coba-coba sendiri. Menggunakan jasa SEO akan lebih aman dan efektif, terutama supaya website kamu terhindar dari berbagai error teknis dan sudah SEO-friendly sejak awal.
Whello juga sudah berpengalaman bertahun-tahun menangani berbagai jenis klien dari beragam industri, jadi strategi yang digunakan bisa disesuaikan dengan kebutuhan bisnis kamu.
Menariknya lagi, kamu bisa konsultasi gratis dulu untuk memahami kebutuhan SEO website. Yuk konsultasikan strategi SEO kamu bersama Whello!
Frequently Asked Questions
Konten evergreen adalah konten yang tetap relevan dan dicari dalam jangka panjang. Contohnya tutorial, panduan, tips, FAQ, definisi, dan how-to. Untuk bisnis, konten seperti ini bisa menjadi bagian penting dari strategi SEO Whello agar website terus punya peluang mendatangkan traffic organik.
Suka Artikel Ini?
Subscribe Newsletter Whello Gratis
Dapatkan promo eksklusif dan konten menarik langsung di emailmu.

Tentang Sylvia Paramitha
Copywriter
Hai! Kenalin aku Sylvia Paramitha, copywriter alias orang dibalik kata-kata kreatif di Whello Indonesia. Yuk kenalan!


























